Buscar

Love and Coffee (part 2)



Ini adalah salah satu kejadian yang terjadi pada Ayu dan Agfa setelah cerpen sebelumnya (love and coffee, red.), atau bisa dikatakan lanjutan dari cerpen sebelumnya. Ini hanya lamunanku di saat aku sedang frustasi di tengah-tengah belajarku. Selamat membaca! :)
Sudah beberapa hari ini dia tak menghubungiku sama sekali. Aku mencoba mengiriminya pesan. Tapi dia hanya membalas dengan emoticon senyum lebar. Dan tidak ada balasan lagi setelah itu. Tiba-tiba, aku membayangkannya sedang berada di rumah sakit. Terbaring lemah, tak berdaya. Ketika bayanganku tentangnya belum pudar, ada telpon yang membuyarkan lamunanku. Nomor tak dikenal. Lalu aku mengangkat telpon itu. Mungkin penting.
“Apa benar, ini nomornya Ayu?”
“Iya mas. Benar.”
“Ayu pacarnya Agfa bukan?”
“Iya mas. Ini siapa ya? Kok tanya-tanya gitu?”
“Ini Edy. Teman satu kontrakan Agfa. Bisa ke Rumah Sakit Araya sekarang?”
“Lho? Ada apa mas? Kok ke rumah sakit?”
“Sudah. Datang ke sini dulu. Aku tunggu di pintu masuk. Masih ingat wajahku kan?”
“Oh.. iya iya. Aku ke sana sekarang.”
“Secepatnya ya!”
Dan telpon itu pun berakhir dengan penuh tanda tanya di otakku. Pasti ada hubungannya dengan Mas Agfa. Kecelakaan? Entahlah. Yang jelas aku harus bergegas ke sana.
Sesampainya di sana…
“Ayu, kan?”
“Iya. Ada apa sih mas? Mas Agfa kenapa? Kecelakan kah?”
“Kamu jangan shock dulu ya. Jadi gini. Seminggu yang lalu, Agfa kecelakaan motor. Dan patah tulang tangan, lengan bawah. Sekarang masih belum sembuh.”
“Terus? Aku gak dapat kabar sama sekali! Dan pantas, dia hanya membalas pesanku dengan senyum atau hanya bilang iya. Kenapa gini?!”
“Dia sebenarnya gak mau kamu tau kejadian ini. Dia tuh gak mau buat kamu jadi khawatir. Tapi, aku beritahu hal ini ke kamu. Aku kasian kalau kamu gak tau apa-apa.”
“Parah gak? Tangan sebelah mana?”
“Lumayan. Sebelah kanan. Ayo, ke kamarnya sekarang!”
Aku pun berjalan dengan rasa khawatir luar biasa. Ketika akan masuk, aku melihat banyak beberapa pasang alas kaki. Sepertinya dia di kunjungi banyak kerabatnya.
Dan dugaanku benar..

Love and Coffee (part 1)



Hai semuanya. Aku kembali dengan cerpen baru. Tetap kisah cinta sang mahasiswi. Tapi berbeda tokoh. Sedikit cerita asli, dan banyak modifikasi. Selamat membaca :D
***
Perkenalkan, namaku Ayu. Aku menetap di kota M untuk menuntut ilmu di salah satu universitas terkenal kota tersebut. Dan saat ini, aku memasuki tingkat dua. Aku memiliki kisah cinta yang menurutku seperti sinetron di televisi. Berlebihan. Seperti sudah terskenario. Dan aku mulai malas untuk berkomitmen lagi dalam hal percintaan.
Aku bosan. Handphone yang sepi akan sms. Dan aku mulai melirik salah satu sosial media. Aku tertarik. Sepertinya menyenangkan untuk sekedar iseng. Dan setelah beberapa hari, aku menemukan seseorang. Parasnya boleh juga. Baik hati pula. Dia bernama Agfa.
***
Kami pun mulai saling berbalas pesan lewat bbm, whatsapp, dan sms-an. Aku masih berpikir bahwa ini salah satu cara membangkitkan mood-ku yang gampang berubah. Aku bahkan tidak berniat untuk bertemu dengannya. Sampai suatu ketika, entah apa yang merasukiku, aku mulai tertarik padanya. Dia yang mulai sering menghubungiku melalui telpon dan sms, khawatir denganku ketika aku sakit, dan sering bercanda, semua yang dia lakukan membuatku tersentuh. Tidak pernah aku mendapatkan perhatian seperti ini dari mantan pacarku. Bahkan dari orang tuaku. Dia seperti sosok kakak lelaki yang memberi penjagaan sepenuhnya untuk adiknya. Dan di saat inilah, aku mulai membuka hati kembali.
Kami pun berjanji untuk bertemu. Ini adalah pertemuan pertama kami, dan aku berharap, ini tidak kacau dan tidak memalukan. Dia pun datang menjemputku sesuai jam yang di janjikan. Kami pun segera meluncur ke sebuah tempat yang nyaman untuk ngobrol dan bersantai menikmati secangkir kopi kesukaan kami. Ya. kami memiliki selera yang sama, yaitu kopi. Kami berbincang santai membahas hal hal yang sepele hingga berjam jam. Dan tak terasa malam semakin larut. Dia pun mengantarku pulang.
Aku tak bisa tidur karena memikirkannya. Dan baru kali ini aku seperti merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Entah apa yang membuatku seperti ini. Tetapi, ini kenyataan hati yang tak data dipungkiri.
***
Hari ini adalah hari minggu. Hari bersantai seluruh umat manusia. Dan yang aku lakukan adalah browsing. Dan aku mulai bosan hingga akhirnya melamun. Tiba tiba dalam lamunanku bayang wajah Agfa muncul. Senyumnya, tawanya, cara bicaranya, tingkah lakunya, membuatku ingin bertemu dengannya lagi. Baru kali ini aku merindukan seseorang. Tapi, aku mulai berpikir, apakah dia masih ingin bertemu denganku lagi? apa dia masih ingin menghubungiku lagi? Aku mulai khawatir. Aku takut dia tidak menyukaiku. Aku takut dia menjauhiku. Aku takut semua tidak sesuai harapanku. Aku benar-benar ingin dia menjadi kekasihku. Aku mulai membuat status di sosial media yang intinya aku menyukainya. Tapi dia tidak ada respon. Aku mulai menduga, apa dia hanya menganggapku seorang teman? Tidak lebih? Tuhan, aku ingin dia tahu, bahwa aku mencintainya.
***
Di hari hari berikutnya, dia tetap bersikap biasa saja. Tak ada yang berubah. Aku pun mulai putus asa. Sepertinya dia hanya menganggapku teman sesaat. Dari pagi sampai malam ini, dia tidak menghubungiku sama sekali. Aku khawatir. Ketika itu pula, handphoneku bergetar. Dia mengajakku untuk bertemu dengannya saat itu juga. Aku sangat senang membaca pesannya. Hingga aku membatalkan janjiku untuk pergi dengan teman-temanku.
Setengah jam kemudian, dia datang. Dan kami pun pergi ke suatu tempat. Sebuah rumah sederhana, yang ternyata itu adalah rumahnya. Aku mulai salah tingkah. Dia segera mengajakku masuk, dan kita pun berbincang di ruang tamu. Hampir satu jam kita mengoobrol. Tak ada yang spesial. Tiba tiba, dia mengatakan ingin membuat minuman untukku. Beberapa saat kemudian, dia datang dan membawa secangkir kopi, dan dia duduk disebelahku. Aku bertanya tanya, apa yang akan dilakukannya.
“Kenapa hanya satu cangkir? Kamu tidak minum?” tanyaku
“Oh, aku sudah minum sebelum menjemputmu.”
“Oh.. oke. Kenapa tiba-tiba duduk disebelahku?”
“Tak apa. Ingin saja. Tidak boleh?”
“Boleh kok.”
Aku mulai tidak bisa bersikap biasa. Mulai salah tingkah. Dan dia tahu itu.
“Kamu kenapa? Jadi salting gitu?”
“Ha? Engga kok. Biasa aja.”
“Yakin?” Tanya Agfa sambil tersenyum penuh arti
“Yakin laah…”
“Aku mau mengatakan sesuatu. Boleh kan?”
“Katakan saja. buat apa minta ijin?”
“Ayu,”
“Ya?”
“Maukah kamu jadi pacarku?”

Aku pun terdiam. Dalam hatiku mengatakan ‘iya’. Tapi, otakku masih berpikir, mengapa dia menyukaiku. Apa tidak salah pilih?
“Ayu…”
“Ha? Iya mas. Kenapa?”
“Kamu mau jadi pacarku? Kalau kamu mau terima aku, minumlah kopi yang ada dicangkir itu. Jika tidak mau menerimaku, tuang kopi itu di asbak. Putuskan sekarang. Aku tidak ingin ada kata menunggu.”
“……”
“Kenapa diam? Ayu… Aku serius.”
Aku segera mengambil cangkir itu. Aku terdiam sejenak. Dan Aku pun meminumnya. Dia melepaskan cangkir dari tanganku dan memelukku erat.
“Terima kasih. Sekarang kamu benar-benar jadi kekasihku.”
“Aku juga bahagia bersamamu. Tapi, kenapa harus kopi?”
“Oh, kopi itu kesukaan kita bukan? Selain itu, cita rasa kopi yang manis dan pahit menunjukkan bahwa hubungan ini juga akan berlaku sama seperti rasa kopi itu. Tetap ada rasa dan komitmen dalam hubungan kita. Jujur dan saling percaya. Kenikmatan dan harum yang dihasilkan kopi tersebut, akan selalu kita rasakan saat kita bersama. Kamu mengerti kan?”
“Iya, aku mengerti.”

To be continued… maybe.

It's Me, Anabell...



Hi… My name is Anabell. I’m 21 years old. In this story, I want to tell you about who I am.
Kenalkan. Namaku Anabell. Aku adalah tokoh utama dalam cerita ini. Tak ada orang lain. Just me.
 Aku berasal dari keluarga yang sangat menyayangiku. Why?  Karena aku adalah putri satu-satunya. Kami dari keluarga berada atau menengah ke atas. My mom, bekerja sebagai pemilik sebuah butik (lumayan besar) di kota J. And my dad, memiliki sebuah pabrik tekstil yang cukup terkenal di kota S. Kedua orang tuaku selalu memperhatikan ku sejak kecil. Tak pernah aku di ajarkan hal yang negatif atau hal-hal yang dapat mempengaruhi pikiranku. Lingkunganku pun adalah sebuah lingkungan yang menyenangkan. Terletak di tengah kota, dengan tetangga yang ramah, sopan, santun, baik, dan tak ada tetangga yang suka menggunjing orang lain. 

Ujian Blok

HAPPY NEW YEAR 2014 .......

mumpung baru awal tahun, saatnya posting niih..

Sebentar lagi mau ujian blok. Deg deg.an, khawatir, senang, adalah sebuah rasa yang menjadi satu dalam hati dan pikiranku.
Terbayang semua soal yg akan di ujikan. Entah bagaimana, sampai saat ini, aku masih blm terlalu khawatir. Padahal, ujian di mulai tanggal 7 januari dengan mata kuliah Skills lab komunikasi. Lalu di susul tanggal 13 januari dengan mata kuliah Skills lab faal. Dan yang terakhir adalah ujian blok, yaitu tanggal 15 januari yang akan di bagi 2 sesi. Yaitu jam 8 sampai 12 siang ujian PBL, jam 1 sampai 4 sore ujian biostatistik.
Yah.. beginilah
Ini adalah salah satu kehidupan mahasiswa pend. Dokter gigi universitas brawijaya.
Menyenangkan. Lumayanlaah. Kereen.
Udah dulu ya. Byee

Menuju ke L.A

Hai guys...
Dalam beberapajam lagi.. (skrg tgl 22 nov 2013) tiba waktunya untuk berangkat ke batu buat latihan alam. Apa itu latihan alam? Latiham alam itu adalah diklat untuk youth BUSC.
Semoga perjalanannya lancar.. aamiin...
Tau ga, pagi ini aku sudah bawa barang2 buat diklat yang harusnya dibawa nanti jam 10-11. Kenapa? Karena sekarang ada kuliah sampai jam 10.50. Agak repot juga sebenarnya. Tapi ga masalah deh. Mau diapain lagi?
Trus, barangnya kan berangkat jam 11. Tapi orangnya berangkat jam 1 siang. WHAT? yah.. emang begitu.. sudah direncanakan begitu.. ya diikuti saja. Mau sukses apa tidak acaranya?
Hehe..
Udah ya.. udah masuk niih... dagh... :D