Buscar

Lomba Blog Tagline Pertanian IPB

KETENTUAN PESERTA 
1. —Siswa SMA/SMK Seluruh Indonesia kelas 10 sampai kelas 12
2. Memiliki blog pribadi di wordpress, blogspot atau blog lainnya
3. Memiliki akun facebook dan bergabung di facebook group Pastikan Pilih IPB! dan like facebook page Lomba Blog Tagline Pertanian IPB
4. Memiliki akun twitter dan follow twitter IPB di alamat @ipbofficial


MEKANISME LOMBA
1. Peserta dapat menggunakan blog yang sudah dimiliki atau membuat blog baru di www.wordpress.com  atau www.blogspot.com
2. Tagline dicantumkan di blog title atau blog tagline pada header
3. Membuat sebuah postingan yang mendeskripsikan maksud dari tagline tersebut
4. Membuat sebuah postingan yang berisi pengetahuan peserta tentang IPB
5. Masing-masing postingan tersebut wajib memiliki kategori “Tagline Pertanian - IPB” dan menyertakan tag “Institut Pertanian Bogor (IPB), Admisi IPB, dan Lomba IPB”
6. Blog peserta wajib mencantumkan salah satu badge IPB (www.ipb.ac.id/badge) pada widget blog
7. Blog peserta wajib menyertakan link (tautan) ke website IPB (www.ipb.ac.id) dan Admisi IPB (www.admisi.ipb.ac.id)

8. Peserta wajib memposting (share) URL informasi lomba ini (http://admisi.ipb.ac.id/p/single/lomba) dan blog tagline milik peserta di twitter dan facebook (setting privacy publik) sebanyak masing-masing minimal 3 kali di minggu yang berbeda
9. Peserta mengumpulkan/mengirimkan blog dan melengkapi data diri peserta sesuai kartu identitas di www.admisi.ipb.ac.id/lomba/daftar
10. Peserta dapat memodifikasi tagline, tampilan blog dan isi blog sampai pada saat penjurian.


WAKTU 
1. Batas Akhir pengumpulan tagline pada tanggal 8 Maret 2013 pukul 17.00 WIB
2. Penjurian akan dilakukan pada tanggal 9 Maret 2013 sampai 29 Maret 2013
3. Pemenang akan diumumkan pada tanggal 30 Maret 2013 di  website www.admisi.ipb.ac.id

PENILAIAN 
1. Penilaian dilakukan terhadap seluruh blog yang masuk (sesuai ketentuan lomba)
2. Keaslian karya 
3. Estetika dan kesesuaian dengan tema 
4. Kelengkapan atribut pada blog
—title/tagline
posting deskripsi 
—posting tentang IPB
—link
—badge
—kategori posting
—tag posting
5. Nilai lebih jika:
—Blog didesain dengan rapih dan menarik 
—Blog tagline peserta ditemukan melalui search engine (google, yahoo dll)
6. Keputusan panitia mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Keterangan lebih lanjut, silahkan klik di bawah ini:

Aku Bukan Untukmu



Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu. Aku ingin memilikimu lebih dari yang kau mau. Bahkan terlintas dibenakku bahwa aku ingin menjadikanmu seorang imam dalam keluargaku nanti.
Engkau harus tahu, aku memiliki rasa dan pengorbanan yang sama besar denganmu. Aku memiliki rasa cinta, kasih sayang, serta rasa ingin memilikimu seutuhnya. Pengorbananku juga dapat dihitung. Dimulai ketika aku membuang waktuku hanya untuk mengenalmu, mengorbankan rasa cintaku untukmu, berusaha untuk merubah sifatku agar kau menyukaiku, dan rasa cintaku yang terus kau ambil secara paksa. Aku telah berkorban untukmu. Aku jatuh ke dalam jurang hatimu. Bahkan, ini sudah terlalu dalam. Aku tak dapat kembali, kecuali kau menarikku keluar.
Dan saat inilah, hari ini, kau menarikku keluar dari jurang hatimu.
Aku tahu, aku bersalah karena aku selalu mengecewakanmu. Aku selalu membuatmu berharap padaku. Aku juga selalu melakukan kesalahan-kesalahan yang berujung pada akhir dari hubungan ini. Tapi, tak semestinya seperti ini. Aku tidak mau kehilangan sosokmu. Aku tidak ingin arah padanganku berubah menjauhimu dan sebaliknya. Aku ingin kita tetap menjalin hubungan ini, meskipun hanya sebagai seseorang yang tidak penting bagimu dan membuang waktumu.
Aku juga tahu, aku selalu menggantung hubungan ini, aku tak pernah dapat menjawab semua perasaanmu. Aku juga tak pernah mengatakan semua dengan serius. Aku, bahkan tak dapat mengatakan kata ‘cinta’ untukmu.
Saat ini, aku merasakan getir dan pahitnya cinta. Aku juga dapat merasakan rasa yang menyesakkan dada. Aku tak dapat menahan air mataku. Ini sudah yang ketiga kalinya, aku meneteskan air mata untukmu. Dan semua kejadian saat itu terulang kembali.
Salahkah aku, bila aku menepis cintanya demi sebuah masa depan yang telah terlihat semakin mendekat?
Salahkah aku, bila aku saat ini bimbang antara menerima hatinya atau pun tidak?
Aku menuliskan ini bukan untuk membuatmu berubah pikiran. Aku ingin tulisan ini menjadi ingatan terakhirku tentangmu. Tulisan ini akan menjadi catatan, di mana aku dan kamu pernah bertemu sebelumnya. Pernah saling sapa. Pernah saling memiliki. Pernah saling menyukai. Pernah, pernah, dan pernah.
Entah kapan kita akan bertemu. Entah kita saling mengenal satu sama lain atau justru sebaliknya. Maafkan aku yang selalu menepis cintamu karena kita mungkin tak sepaham dan tak sejalan.

Maukah kau mengingat ini?
“Aku mencintaimu dengan apa adanya dirimu. Aku akan selalu mendo’akan yang terbaik bagimu. Aku tetap ingin berada disisimu, meskipun aku bukan untukmu. Aku akan tetap mengenang rasa cinta ini, aku juga akan mengingat saat-saat pertemuan kita. Pertemuan yang membuatku kehabisan kata-kata, pertemuan yang membuatku selalu salah tingkah dihadapanmu, pertemuan yang membuatku selalu tersenyum dan dapat menurunkan egoku, dan juga pertemuan yang membuatku semakin menyukaimu.”

Cinta itu...

Ada yang bilang, cinta itu murni. Semurni apa? Tak ada yang tahu. Dari luar, terlihat baik, tetapi mungkin saja dari dalam cacat. Cacat ini karena tidak adanya ketulusan dan sebuah rasa kasih sayang. Tulusnya cinta itu, dapat menjadikan cinta setiap orang memiliki perbedaan yang tidak disadari. Terkadang, perbedaan itu muncul ketika kita sedang dalam rasa cemburu, adanya pengorbanan, dan masih banyak lagi yang dapat membuat perbedaan.
Untuk versiku, cinta itu terkadang seperti sebuah batu. Mulanya kokoh, sampai akhirnya terkikis habis oleh faktor-faktor di sekitarnya. Salah satu faktornya, mungkin adalah support dari orang-orang terdekat. Bisa juga dari pasangan kita sendiri, bahkan dari adanya orang ketiga yang mengusik.
Untukku, baru pertama kali aku merasakan cinta. Dan masih sampai sekarang. Tidak ada kata pacaran, tapi aku menyukainya. Aku menyukai keadaan yang seperti ini. Kenapa? Karena dengan begini, aku tidak terkekang oleh komitmen yang menurutku berlebihan, aku juga bisa menghindar jika terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan, selain itu, masa-masa pendekatan itu menyenangkan, terjadi banyak suka dan duka, saling bertukar pandangan, saling mengenal diri satu sama lain, bahkan belajar untuk menyukai hal yang sama. Tetapi, ketika sudah pacaran? Mungkin tak akan ada seperti itu. Justru adanya rasa cemburu yang terkadang berlebihan, over protective terhadap pasangan, dan mungkin monoton. Hanya jalan, nonton, makan, dan sebagainya.
Yah begitulah pandanganku. Bagi yang merasa tersinggung, aku minta maaf ya. Jangan diambil hati. Ok?
Itu ceritaku. Bagaimana denganmu?

Rangkaian Kata Untukmu

Berawal dari sebuah pertemuan, rasa ini tumbuh. Dan tumbuh semakin cepat seiring dengan semakin seringnya kita bertemu. Kukirimkan rangkaian kata indah untukmu, meskipun aku tak dapat berkata-kata saat kita saling memandang. Aku selalu menunggumu sampai hatimu hanya untukku. Aku selalu memandangmu meskipun kau tak tau di mana diriku saat itu.
Tak henti aku mengagumimu
Tak henti aku merangkai kata untukmu
Tak henti pula aku menunggumu
Kau mengirimkan kabar, kabar tentang pernikahanmu. Dan kau hanya bisa mengatakan ‘maaf’.
Bukankah kau tau bahwa aku sangat mencintaimu? Bukankah kau tau hatiku hanya untukmu? Bukankah kau harusnya mengerti itu?
Apakah tak ada kesempatan lagi untukku?
Tak pernah kau mengerti akan rasaku. Rasa yang tak akan hilang oleh waktu. Rasa yang tak mudah ku hapus dalam benakku. Rasa yang telah melekat dalam tulangku. Rasa yang membuatku kehilangan separuh dari jiwaku.
Kau membuatku lemah, kau membuatku melelehkan air mata, kau juga telah membuatku putus asa akan cinta yang baru. Inginku pergi darimu, tapi, hati dan pikiranku tak sejalan. Aku hanya bisa bahagia untuk pernikahanmu, meskipun dalam hati aku menangis. Meskipun dalam hati aku kecewa akan sikapmu, meskipun aku nantinya tak dapat lagi menaruh hati padamu, dan tak dapat memilikimu…

Rangkaian Kata Untuknya (I)

Jauh sudah aku melangkah dan jalanku ini semakin panjang. Mengingat jalan yang ku tempuh tidaklah mudah. Ingin ku berhenti sampai di sini, tapi, tak bisa. Saat ini, aku hanya bisa berdiam diri, mematung, dan seakan-akan tak berdaya. Menangis pedih karena ulahku sendiri. Menangis pedih karena kesalahan-kesalahan akan diriku.
Aku yang telah terjerumus dalam sebuah jurang, dan mungkin tak dapat kembali, hanya bisa meminta pertolonganmu, Tuhan. Aku telah berusaha membuang segala gejolak ini, aku telah berusaha memaki-maki diriku yang tak bisa melakukan apapun untuk menjauh. Aku juga telah berusaha membuatnya menjauh dariku.
Tapi, Tuhan…
Di satu sisi, aku merindu, aku bahagia, aku membutuhkannya. Entah kenapa.
Rasa ini munafik. Rasa ini membuatku tak bisa jika tak meneteskan air mata. Rasa ini membuatku selalu mengeluh. Selalu saja antara mulut dan hati berperang melawan kebenaran. Mulutku berkata ‘tidak’, tetapi hatiku berkata ‘iya’.
Tuhan…
Bisakah aku menepis semua ini dari kehidupanku? Ataukah tak perlu aku menepisnya?
Bisakah aku tak peduli? Bisakah aku menghilang dari kehidupan agar semuanya selesai begitu saja?
Aku takut, Tuhan...
Jika semua ini semakin sulit untuk aku lupakan, jika aku terjatuh semakin dalam, dan jika semua ini tak akan berbuah manis pada akhirnya…