Buscar

Aku & Musikku



          Aku berada di Geff Symphony. Sebuah bangunan luas dan memiliki nama yang terbaik dalam menghasilkan pemusik-pemusik handal. Sekarang, aku berada pada sebuah ruang yang cukup besar. Ruang bercat creamy peach dengan sebuah lampu besar dan mahal di langit-langit. Lukisan awan yang sangat indah menghiasi atap ruang ini. Banyak sekali kursi berserakan dan di bentuk melingkar. Sebuah piano classic berwarna putih di sudut ruangan itu, membuat ruangan ini semakin terasa hidup. Tak kusangka, aku dapat memasuki ruang yang dulu hanya bisa aku impikan. Aku mendekati piano itu. Aku menekan beberapa tuts, dan memainkannya sesuka hatiku. Tiba-tiba, ada yang membuka pintu kayu jati itu. Aku terkejut. Dan dia berkata padaku.
          “Seharusnya, kau mainkan crescendo pada part itu. Pasti terdengar lebih baik.”
            (crescendo: makin lama makin keras)
          “Ah, maaf. Aku tidak bermaksud memainkan piano ini. Maafkan aku.”
Segera aku berdiri, dan menyingkir.
“Tak apa. Mainkan lagi. dan lakukan crescendo pada part tadi.”
“Oh, baiklah.”
Aku memainkan kembali lagu itu dengan arahannya. Ternyata, terdengar lebih indah. Aku semakin menyukai lagu itu.
“Bagaimana? Lebih baik bukan?”
“Iya. Terima kasih. Kau siapa?”
“Kau, tidak mengenalku? Ok. Baiklah. Aku yang mengelola gedung, dan pemilik piano classic itu. Perkenalkan, namaku Giovany Deschag. Panggil saja Gio. Siapa kau? Aku baru melihatmu pertama kali di sini.”
“Aku Lyra. Lyra Evarences. Tadi, orang yang didepan, menyuruhku untuk masuk ke ruang ini. Katanya, aku akan berlatih disini, dan akan ada orang yang masuk untuk membimbingku.”
“Oh, kau yang mengikuti program Gold Individual Person?”
“Iya.”
“Kenapa kau mengikuti program ini? Ini program yang sangat mahal. Dan kau tidak akan memiliki teman karena kau hanya akan latihan berdua saja dengan pelatihmu. Jamnya pun berbeda dengan anggota yang lain.”
“Aku memang menginginkannya. Aku ingin menekuni bidangku ini tanpa ada yang tahu.”
“Mengapa begitu? Bukankah lebih menyenangkan jika bermain bersama beberapa orang?”
“Aku sering dicemooh dan dikucilkan oleh teman-temanku. Mereka berkata, aku lebih pantas bermain sendiri. Karena aku bermain tergantung pada suasana hatiku. Karena itu, aku ingin menjadi sosok pianis yang hebat. Pianis yang dapat membuat orang-orang ikut hanyut dalam lagu yang aku bawakan.”
“Benarkah kau ingin seperti itu? Dan kau ingin membuktikan pada teman-temanmu?”
“Ya. Umm.. dari tadi, aku tidak melihat ada orang yang masuk ke sini. Apakah pelatih itu tidak mau melatihku?”
“Haha.. Apa kau tidak menyadari bahwa pelatihmu sudah memasuki ruangan ini, dan berdiri di hadapanmu sejak tadi?”
“Ah! Maafkan aku. Aku tidak menyadarinya. Karena tuan terlalu..”
“Muda? Haha… Aku telah melihat profil dirimu. Dan umur kita hanya terpaut 2 tahun. Karena itu, tak perlu memanggilku tuan. Panggil saja Gio. Memang, banyak yang terkejut karena pelatih mereka yang belajar disini masih tergolong muda. Mungkin, karena bakat dari alam, sehingga aku bisa menjadi pelatih music dan mengelola gedung ini. Mau dimulai sekarang latihannya? Kau hanya memiliki waktu 2 jam setiap harinya. Jangan sia-siakan waktumu!”
“Oh, baiklah. Kita mulai sekarang.”
Ini, adalah awal pertemuanku dengan pelatih pianoku. Umur yang tidak terpaut jauh, membuat aku dan Gio seperti layaknya teman biasa. saling bersenda gurau, dan saling berbagi cerita. Gio selalu membuat hari-hariku penuh warna.
***
3 bulan telah berlalu. Dan aku masih rajin latihan. Akhir-akhir ini, aku berlatih sendiri. Mungkin, gio sedang lelah, atau sibuk mengelola gedung ini. Tapi, tak apa. Dia selalu meninggalkan catatan kecil di atas pianonya, agar aku bisa memperbaiki kesalahan-kesalahanku pada lagu yang aku mainkan, dan terkadang menyuruhku untuk berlatih lagu baru yang dituliskan pada catatan kecil itu. Tiba-tiba, Gio masuk dengan raut wajah yang lelah dan kusut.
“Apa yang terjadi padamu? Raut mukamu membuatku takut.”
“Maaf, Lyra. Sepertinya, kau harus berlatih dengan pelatih dan piano lain mulai lusa.”
“Memangnya, ada masalah apa?”
“Orang tuaku bankrupt. Kami harus mengganti kerugian pada beberapa perusahaan. Dan CEO gedung ini, tidak ingin memiliki pelatih yang berstatus sepertiku. Piano ini akan dijual, untuk menutup kerugian itu.”
“Aku turut sedih. Lalu, kau akan tinggal di mana?”
“Aku akan tinggal bersama salah satu keluarga ayahku di luar kota. Mungkin, hidup kami bisa lebih baik di sana. Jika keluargaku sudah bangkit kembali, aku akan menemuimu.”
“Oh, begitukah? Tidakkah ini terlalu menyakitkan? Aku tak memiliki teman selain dirimu. Dan sekarang kau akan meninggalkanku?”
“Maaf, Lyra. Tapi, ini memang takdir. Bersikap baiklah pada pelatih barumu. Karena ia sudah senior, pengalamannya jauh lebih baik. Jangan suka membantah jika sedang bersamanya. Sampaikan dengan baik jika kau ingin berpendapat tentang musikmu nanti. Senior itu sangat mengerti akan dunia music. Jadi ambillah kesimpulan setiap dia bercerita tentang pengalamannya. Kau mengerti bukan?”
“Uh.. baiklah. Aku coba untuk mengingat semua kata-katamu.”
“Hari ini, aku ingin bermain piano berdua denganmu di pianoku untuk terakhir kali. Bersediakah kau melakukannya?”
“Tentu saja.”
Kami pun membawakan lagu sesuai dengan suasana hati kami saat ini. Aku benar-benar hanyut dalam permainan tangan kami. Aku seperti ikut merasakan kegelisahan dan kesedihan yang dirasakan Gio.
***
Telah lewat satu minggu dari tidak hadirnya dan menghilangnya Gio dari kehidupanku. Aku benar-benar tidak menyukai pelatih baruku. Terlalu bawel. Banyak protes keras. Selalu menghardikku jika aku salah sedikit saja. dia tidak pernah membenarkan permainanku yang salah. Aku disuruhnya untuk mencari kesalahan pada permainanku sendiri. Aku tahu, metode itu adalah metode paling tepat untuk melatih otak dan pendengaranku. Tapi, aku tidak bisa melakukannya. Karena setiap bertemu pelatih baruku ini, moodku hilang begitu saja. Entah kenapa.
“Lakukan staccato pada part 3!”
(staccato: memainkan nada dengan terputus-putus)
“Setelah itu harusnya Fermata! Apa kau tak membacanya?”
(fermata: berhenti dengan waktu yang tidak terikat oleh ketukan)
“Sudah! Sekarang, buka part 36. Mainkan!”
Aku pun memainkannya. Belum ada setengah dari bagian itu, dia sudah menghardikku lagi.
“Seharusnya kau lakukan tremolo! Apa kau tidak mengerti?!”
(tremolo: memainkan notasi berulang-ulang dalam tempo cepat)
“Berikan penambahan mezzo forte! Lalu lakukan Riverso!)
(mezzo forte: agak keras)
(riverso: cara bermain terbalik dari belakang ke depan)
Ya. Seperti itulah dia selalu memarahiku. Aku selalu berusaha melakukannya dengan benar. Tapi selalu salah di pendengarannya. Dia selalu ingin semua yang aku mainkan perfect. Tapi aku jarang bisa melakukan itu. Aku harus bisa bertahan. Agar aku bisa membuktikan pada Gio bahwa aku telah mengingat semua kata-katanya dengan cara aku bermain dengan baik tanpa cacat.
***
Hari ini, pelatih meliburkanku karena dia ada urusan bersama panitia orchestra. Mungkin akan ada concert dari beberapa symphony terkenal. Yah, mungkin aku akan melihatnya. Aku sekarang memasuki sebuah toko yang menjual berbagai alat music. Setelah melihat-lihat, aku terpaku pada salah satu piano classic bercat putih. Mirip sekali dengan milik Gio. Aku mendekatinya, dan benar. Terukir nama Gio di piano itu. Pelayan toko mengatakan bahwa piano ini merupakan milik seseorang dan di jual di toko ini karena orang itu bankrupt. Aku menanyakan harga piano itu. Dan setelah terjadi tawar menawar dengan pelayan dan si empunya toko, aku berhasil membeli piano itu. Kini, aku bisa bermain dengan piano Gio setiap hari.
***
Seorang pria memasuki toko music itu. Ia menanyakan sebuah piano classic berwarna putih yang dijualnya 2 bulan lalu. Pelayan toko itu memberitahu, bahwa piano itu sudah terjual. Pria itu meminta nama dan alamat pembeli tersebut. Sayang, pelayan itu menghilangkan kartu nama pembeli itu. Ia hanya mengingat nama pembeli itu. Namanya adalah Eva. Pria itu mulai mencari seorang pianis bernama Eva yang telah membeli pianonya.
Sudah berhari-hari ia mencarinya. Tapi, tak dapat menemukannya. Suatu hari, ia mendapatkan selebaran pertunjukkan pianis-pianis baru yang lahir dari Geff symphony. Ketika ia membaca anggota pianis baru, ia menemukan nama Eva. Nama lengkapnya, Eva-rences Lyra. Ia tidak menyangka. Bahwa orang bernama Eva yang dia cari-cari selama ini adalah Lyra. Ia segera membeli tiket untuk melihat pertunjukkan itu. Ia harus melihat perkembangan Lyra.
***
Minggu ini benar-benar melelahkan. Karena aku harus tampil dalam sebuah pertunjukkan untuk solois-solois baru. Tapi, ini sesuatu yang baru dan menyenangkan. Aku akan tampil di depan ribuan orang. semoga Gio melihat penampilanku.

Hari yang aku tunggu-tunggu tiba. Aku menggunakan piano Gio. Agar dia tahu bahwa aku akan membawakan lagu dengan pianonya, dan berhasil sebagai pianis terbaik, tanpa cacat. Aku segera menyewa mobil untuk membawa piano itu menuju gedung Geff Symphony.
Persiapan sudah usai. Dan saat ini, aku sedang menunggu giliranku untuk tampil. Rasanya, aku seperti ikut audisi untuk pemilihan ratu sejagad.
Namaku telah dipanggil. Aku pun keluar dengan penuh percaya diri, dan memberi hormat pada penonton. Dan tak kusangka, Gio berada pada deretan ketiga paling depan. Dia melambaikan tangan dan mengacungkan jempolnya padaku. Aku benar-benar bahagia. Dia bisa melihatku berada di panggung ini.
Aku pun memainkan ‘Piano Sonata in C Major’ dan ‘Waltz in G-Flat Major’ dengan baik dan tanpa kesalahan. Penonton memberikan standing applause setelah permainanku usai. Gio pun memberikan kode padaku agar aku keluar dari ruangan untuk menemuinya.
“Gio!!”
“Lyra!”
Kami pun berpelukan melepas rindu. Lama sekali rasanya tidak bertemu.
“Kau memainkannya dengan indah. Aku menyukainya.”
“Ini semua berkat do’a dan pianomu.”
“Kau juga harus berterima kasih pada pelatihmu itu.”
“Ya, aku sudah melakukannya. Maafkan aku, aku membeli pianomu tanpa seizinmu. Oh ya, kau sudah bangkit dari keterpurukan?”
“Haha… keterpurukan? Tidak separah itu, Lyra. Keluargaku sudah dapat bangkit, dan kami membuat usaha kecil-kecilan. Seminggu yang lalu, aku berniat membeli pianoku kembali. Tapi, piano itu sudah tak ada. Pelayan toko ituu mengatakan bahwa pianis wanita bernama Eva yang membelinya. Aku mencari berhari-hari. Sampai akhirnya aku melihat selebaran, dan aku baru menyadari bahwa Eva itu adalah dirimu. Sejak kapan kau mengganti namamu?”
“Aku tidak mengganti namaku. Hanya saja, kata pelatih, nama Eva akan lebih baik. Karena itu aku menuliskan nama pada selebaran seperti itu. Pelatih yang menyuruhku. Aku sekarang jadi perbincangan orang-orang. kata mereka, aku pianis yang hebat. Haha.. apalagi, aku terkesan elegant saat tampil bersama dengan pianomu.”
“Baiklah, Eva. Maukah kau mengembalikan pianoku? Aku bisa membelikan piano baru untukmu yang persis seperti milikku.”
“Mengembalikan pianomu? Tidak mau. Aku sudah membelinya. Aku juga tidak mau kau mengeluarkan uang untukku hanya demi sebuah piano.”
“Tapi, aku ingin bersama dengan pianoku lagi. ayolah, aku mohon..”
“Tidak mau. Aku ingin piano ini menjadi milik kita berdua selamanya.”
“Maksudmu?”
“Kau mau kan selalu ada disisiku, menemaniku dan berbagi suka duka bersama?”
“Kau serius?”
“Tentu saja.”
“Dengan senang hati. Aku akan menjadi satu-satunya orang yang akan menjadi pasangan hidupmu.”
Kami pun berpelukan kembali. Kali ini, seakan-akan tak ada siapa pun di sekitar kami. Serasa tempat ini hanya milik kami berdua. Tiba-tiba, Gio melepaskan pelukannya.
“Lyra..”
“Ya?”
“Jangan bergerak.”
“Ada apa? Kenapa aku..”
“Ssst.. jangan bicara. Diamlah. Ikuti saja apa yang akan aku lakukan.”
Aku pun memejamkan mata. Hembusan napasnya serasa begitu dekat. Wajahnya bersentuhan dengan wajahku. Dan aku pun terhanyut dalam sentuhan yang begitu dalam. Tak peduli bagaimana orang-orang di sekitar melihat kami. Kami tak bisa berhenti. Dan malam ini, adalah malam terindah bagiku dan Gio...

Kecil hingga Kini



Berawal dari sebuah isakan tangis seorang bayi ketika di lahirkan di dunia, itu adalah moment di mana aku membuka mataku untuk melihat seluruh dunia tanpa ragu. Mencoba untuk menggerakkan diri setelah terdiam dalam sebuah kegelapan. Mencoba mengenal siapa kedua orang tuaku. Mengenal sosok dan suara lembut ibu yang melahirkanku dan ayah yang akan selalu mengiringiku.
Mungkin, sudah 5 tahun berlalu. Kini aku bersekolah di sebuah Taman Kanak-kanak. TK Kemala Bhayangkari, ya, itu namanya. Di sekolah ini, aku mengenal teman, canda tawa, dan semua kejadian menyenangkan.
Kali ini, aku memasuki sekolah yang tak jauh berbeda dari masa TKku, hanya saja tingkatannya sedikit lebih tinggi. Di SD Kebonsari 1 Tuban ini, aku mengenal lebih banyak teman, lebih banyak canda tawa, tangis, dan ejekan-ejekan yang sebenarnya tak perlu ditanggapi. Aku juga memiliki sebuah geng. Pernah suatu ketika, ada perselisihan antara gengku dan geng lain (meskipun kami satu kelas, kami tetap berbeda geng). Saat itu, gengku pecah, karena ada provokator. Tapi, sama sekali tidak mengubah keadaan. Lalu, aku mengikuti geng lain. Disinilah, provokator itu beraksi lagi. ia yang membuat geng ini rusak, persahabatan kami juga. Entah kenapa dia melakukannya.
sungguh masa-masa SD yang menyenangkan dan menyedihkan.
Aku dan teman-teman SDku berpisah. Kami menuju SMP yang kami inginkan. Aku menginjakkan kakiku ke sebuah sekolah yang terletak di dekat alun-alun kota, SMP N 1 Tuban. Disini, aku pertama kalinya mengagumi seseorang. Orang yang aku temui ketika aku mengikuti Masa Orientasi Siswa. Berkulit sawo matang, berwibawa, manis, dewasa, bijaksana, pintar berorganisasi, dan masih banyak kelebihannya. Disini pula aku bertemu teman-teman baru, dan aku membuat sebuah kelompok belajar dengan mereka. Setelah berkenalan dengan mereka, mulailah masa perjuanganku untuk mencapai cita-citaku, menjadi seorang dokter. Kelompok belajarku ini, akhirnya berubah menjadi sahabat-sahabat setia. Masa suka duka, kecewa, dan perasaan untuk mengagumi sesseorang, adalah bumbu-bumbu ketika bersama teman-temanku. Kami juga pernah harus melanggar peraturan agar dapat bertegur sapa dengan orang yang kami kagumi. Tak hanya sampai disitu. Kami juga sempat di gertak oleh kakak kelas kami, karena mendekati orang yang menjadi kekasihnya. Miris rasanya, tapi lucu juga ketika mengingatnya.
Tiba saatnya, ketika aku harus masuk ke tingkat yang lebih tinggi lagi. ketika aku harus memasuki ‘masa yang paling indah’, begitu kata orang-orang. aku memasuki dunia baru, dan jauh berbeda dari sebelumnya. Aku menginjakkan kaki di SMA N 1 Tuban. Disinilah, kehidupan baru pun di mulai. Di SMA ini, aku bertemu dengan orang yang aku kagumi pertama kali. Entah kenapa, aku tetap mengaguminya, meskipun sudah lama rasanya tak bertemu. Ia semakin dewasa, semakin berwibawa, semakin manis (menurutku), dan semakin bertanggung jawab.
Kali ini, di masa inilah, aku akan menentukan kembali, menelusuri bakat dan keinginanku. Setelah aku melakukan itu semua, aku mencapai sebuah keputusan, bahwa aku ingin menjadi seorang dokter gigi, bukan seorang dokter. Aku pun memantapkan hati sejak saat itu.
Di masa ini, aku mengikuti pertukaran pelajar di Singapura, mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler, dan sampai meraih juara dalam ekskul tersebut.
Di sini pula, aku masuk ke jurusan IPA, sesuai keinginanku. Aku bertemu teman-teman baru, di kelas baru, dan menuangkan cerita baru. Ada rasa suka, senang, susah, duka, tangis, kecewa, marah, sensitive, falling in love with someone, dan berbagai rasa lainnya ketika bersama teman-teman baru yang kini adalah sahabat-sahabat yang tak akan terlupakan dan tergantikan.
Dan saat ini, aku masih bersama mereka. Berjuang bersama. Kami mulai mencari jurusan dan universitas yang kami inginkan untuk terus melangkah ke depan. Aku pun mencoba di salah satu universitas swasta terkenal di Surabaya. Dan aku pun lolos di jurusan yang aku inginkan, Kedokteran Gigi. Tinggal menunggu hasil pemilihan di universitas negeri. Keinginanku saat ini, adalah lulus UNAS dan lolos SNMPTN. Hanya itu.
Aku pun meninggalkan sebuah kisah cintaku yang ambigu, dan membingungkan, demi sebuah masa depan yang harus aku raih. Biar aku membuka lembaran baru untuk kisan percintaanku dengan seseorang yang akan menjadi pasangan hidupku nanti.
Ya Allah, terima kasih atas semua yang Engkau berikan kepadaku. Sejak aku lahir, sampai saat ini, tak henti aku selalu ingin memujiMu, karena Engkau yang membuatku bisa membanggakan orang-orang yang aku sayangi. Atas restuMu, aku selalu dapat melakukan apa yang aku mau, mendapatkan yang aku inginkan, dan memiliki semua rasa kasih sayang yang aku perlukan…

Aku, Dirimu, & Dirinya (part 1)



Aku tahu. Tak akan ada kisah, tanpa adanya coretan dari pembuat kisah itu. Jujur, kali ini, aku menorehkan tinta pada hamparan kertas luas yang mungkin tak berujung. Atau, bisa saja hamparan kertas itu terbelah begitu saja sehingga menjadi akhir dari coretanku. Sebenarnya, ceritaku kali ini adalah cerita biasa. ini merupakan cerita lain dari Ana dan Bagas. Entah kenapa, aku ingin cerita ini terus berlanjut tanpa batas. Sehingga menimbulkan berbagai macam konflik tentang percintaan, kehidupan, sahabat, dan sebagainya. Cerita ini masih berunsur percintaan. Kisahnya bermula, ketika Ana dan Bagas, terpisah oleh jarak.
***
          “Seharusnya, kamu yang menghubungiku dulu. Kalau gini, kapan kamu berkorban? Ngerelain pulsa aja susah banget.”
          “Maaf, Ana. ini lagi hemat. Aku kan harus berhemat. Jadi, kita smsan aja. Ok? Jangan marah, ya?”
“Yah, terderah deh. Ntar yang nyesel juga kamu.”
“Tuh kan, pake ngancam segala. Ntar cepat tua lho!”
“Biarin! Sudah ah. Pokoknya, aku enggak mau kalau aku harus telpon kamu. Ngerti?”
“Iya, iya. Tenang aja. Semoga tidurmu nyenyak. Mimpi indah.”
“Ya!”
Tut.. tut.. tut..
Begitulah. Keseharianku bersamanya. Hampir setiap saat, harus aku yang telpon dia. Dia gak mau berkorban. Telpon bentar aja, enggak mau. Perasaan, setelah pacaran, dia jadi enggak mau telpon. Yah, sudahlah. Masa bodoh. Toh, kalau ada apa-apa denganku, dia yang menyesal.
***
Sudah hampir 6 bulan, aku dan Bagas LDR. Rasanya, tak ada yang berubah. Sedih juga enggak. Rasa cinta juga tak bertambah. Hambar banget. Sudah berulang kali aku memikirkan, bahwa aku dan Bagas sepertinya harus memutuskan hubungan. Tetapi, dia menolaknya. Entah kenapa. Wajar memang, jika seseorang tak ingin memutuskan hubungan dengan pasangannya.
Aku mulai sadar tentang sifat Bagas. Ternyata, dia adalah orang yang egois. Dan egoisnya lebih parah dariku. Harusnya dia sadar itu. Tapi, aku juga gak berani beritahu dia tentang sifatnya itu. Nanti, dia marah. Bagaimana ini? Apa dibiarkan mengalir tenang saja? Ok. Baiklah. Biarkan seperti ini saja. pasti, nanti ada ujungnya.
***
Hari ini, harusnya menjadi hari di mana aku dan Bagas merayakan hari Jadian kami. Tapi, dia tidak mengirimkan pesan satu pun. Dia pasti lupa. Ah, biasa. biar dia saja yang sms dulu. Aku tidak mau menghubunginya.
Hari ini, hanya ada dua mata kuliah. Syukurlah. Aku bisa santai dan mencari buku di perpustakaan untuk tugasku di beberapa mata kuliah. Segera aku menuju perpustakaan, mengambil buku yang diperlukan, dan mengambil tempat paling jauh dari keramaian. Biasalah, aku lebih mudah konsentrasi jika sendirian dan dalam keadaan sepi. 45 menit pun berlalu. Aku masih bergelut dengan buku-bukuku. Sudah 65 menit aku membaca. Sampai pada akhirnya, ada yang mengagetkanku.
“Bisa pinjam stabilo?”
“Oh, i..iya.” Aku langsung memberikan stabilo padanya. Aku baru sadar, jika ada orang di hadapanku.
“Terima kasih.”
“Iya. Kamu, sudah lama duduk di sini?”
“Hmm.. Mungkin hampir 20 menit. Apa kau tak merasa ada orang di dekatmu?”
“Hehe.. iya.”
“Kamu terlalu serius membacanya. Oh ya, kenalkan. Aku Eza. FK, semester 3.”
“Wah,, FK ya? Hmm.. Aku Ana. FKG, semester 1.”
“Junior? Rajinnya ke perpustakaan.”
“Iya, kak. Ada yang tidak aku mengerti.”
“Kok jadi formal ngomongnya? Enggak perlu manggil kakak. Eza aja.”
“Kan aku bertemu senior. Jadi harus formal.” J
“Begitu? Haha.. Tak perlu seperti itu. Biasa saja. Anggap saja aku temanmu. Apa yang tidak bisa? Mau aku ajari?”
“Wah, boleh nih.”
Akhirnya tugasku selesai dengan bantuan Eza. Tak kusangka, sudah orangnya pintar, baik, rajin pula. Aku dan Eza juga tukar nomor handphone. Entah untuk apa. Mungkin, aku butuh dia kalau ada tugasku yang tidak bisa. :P
***
Malam ini, aku sedang smsan dengan Bagas. Dia sedang sakit. Karena itu, aku mencoba menghiburnya.
‘Sudah minum obat kan? Ntar kalo gak minum obat, zombie bakal datang ke kosmu.’
‘Haha.. gak akan mungkin. Aku gak takut sama zombie.  Yang ada zombienya lari gara-gara lihat aku, soalnya aku terlalu ganteng.’
‘PeDe banget sih! Istirahat yang banyak, makan yang teratur. Biar sehat lagi.’
‘Ok. Demi kamu, aku akan minum obat, istirahat cukup, dan makan teratur. Gimana?’
‘Cuman gara-gara aku? Jangan dong. Demi hidupmu aja. Berarti, kalau gak ada aku, kamu gak mau melakukan semua itu?’
‘Hehe.. bercanda. Ya tetap aku lakukanlah. Kamunya sudah makan atau belum?’
‘Belum.’
‘Kok belum? Cepat makan! Ntar sakit seperti aku, gimana?’
‘Iih.. gak mau aku. Aku belum makan, karena ini belum waktunya makan malam.’
‘Oh, gitu?’
‘Eh, sudah dulu, ya! Aku mau makan. Sudah dipanggil mamaku.’
‘Ok.’
Akhirnya, aku selesai makan malam bersama keluargaku. Papaku menanyakan sesuatu yang membuatku sedikit membutuhkan pemikiran yang berat.
“Ana, kamu sudah punya pacar?”
“Hmm.. belum kok pa. Memangnya kenapa?”
“Gak ada apa-apa. Cuman tanya.”
Memang, orang tuaku tidak tahu, kalau aku sudah berpacaran dengan Bagas. Aku berusaha menyimpan rajasia ini dengan erat. Kenapa? Aku takut orang tuaku tidak setuju. Biasa, orang tuaku kemauannya banyak. Dan tidak semuanya terdapat dalam diri Bagas.
“Ana! Handphonemu bunyi! Ada telpon, ya?”
“Telpon? Iya ma.”
Segera aku berlari ke kamarku. Mungkin, Bagas menelponku. J
Aku tak sempat melihat namanya. Langsung saja aku angkat telponnya.
“Halo, Bagas?”
“Bagas? Kamu tidak men-save nomorku? Aku Eza.”
“Oh, maaf. Aku kira Bagas. Karena tadi, dia berjanji akan menelponku.”
“Siapa Bagas?”
“Oh, dia pacarku. Eh, iya. Ada apa nih?”
“Sebenarnya, mau ngajak kamu pergi. Ada perayaan barbeque di dekat rumahku. Tapi, nanti aku dimarahi pacarmu.”
“Enggak kok. Dia gak akan marah. Orangnya baik.”
“Kalau gitu, kamu siap-siap. Lalu, alamatmu smsin ke aku. Ok?”
“Ok.”
Aku segera bersiap, dan mengirim pesan berisi alamatku ke Eza. Entah kenapa. Rasanya, aku senang sekali mau pergi dengan Eza. Tidak seperti ketika mau bertemu Bagas.
10 menit kemudian, ada orang membunyikan bel rumah. Dan, mamaku membuka pintu.
“Permisi, Tante. Apa benar ini rumah Ana?”
“Iya. Mas siapa ya? Ada perlu apa?”
“Saya teman Ana, Eza. Saya ingin mengajak Ana pergi ke perayaan barbeque. Bolehkah Tante?”
“Boleh. Tapi, sebelum jam 9, Ana harus sudah ada di rumah. Mengerti kan?”
“Baik, Tante. Eh, selamat malam, Om.”
“Oh, iya. Malam.”
“Dia teman Ana, pa. Sudah, biarkan saja.”
“Hmm.. Jaga Ana. Jangan sampai Ana terluka.”
“Baik, Om.”
“Ana, ada temanmu, Eza.”
“Iya, ma.”
Segera aku bergegas keluar, dan berpamitan pada orang tuaku.
Ternyata, Eza sepertinya serius mengajak aku pergi. Ke rumahku aja bawa mobil. Terserah deh.
Kami pun berbicara panjang lebar tentang banyak hal. Dan kami sampai di sebuah rumah mewah. Excited sekali. Kami segera disambut dengan hangat oleh pemilik rumah, yang ternyata adalah teman Eza. Banyak sekali yang datang. Seperti pesta ulang tahun besar-besaran. Kami berbaur dengan banyak orang, bersenang-senang, dan tertawa ria. Jam menunjukkan 20.45, dan kami berpamitan pada mereka untuk pulang. Pengalaman yang menyenangkan. Kalau tak ada Eza, tak mungkin aku dapat merasakan seperti ini.
Sesampainya di rumahku, aku mengucapkan terima kasih padanya. Dan ia segera pulang. Sepertinya, kali ini, aku akan mimpi indah. Pengalaman yang tiada duanya.
***
Sudah 2 minggu ini, aku dekat dengan Eza. Tak hanya di tempat kuliah, kami juga sering telpon dan smsan. Dan aku juga masih smsan dengan Bagas. Sepertinya, rasaku ke Bagas mulai berkurang.
Lamunanku tiba-tiba berhenti, ketika ada sms dari Bagas.
‘Aku akan pulang malam minggu nanti. Ayo, jalan.’
‘Sayang banget. Aku sudah ada janji dengan temanku. Kita mau ngerjakan tugas bersama.’
‘Oh, benarkah? Apa tidak bisa ditunda lain waktu? Aku kangen sama kamu.’
‘Maaf ya, gak bisa. Aku udah janjian sejak 2 hari yang lalu. Jadi gak mungkin aku batalkan.’
‘Ok lah. Tidak masalah.’
Maaf, Bagas. Aku berbohong. Aku tak bisa bilang, kalau sebenarnya aku akan makan malam dan jalan-jalan with Eza. Sepertinya, kamu kecewa. Maafkan aku.
***
Malam minggu pun tiba. Dan aku sudah bersama dengan Eza di sebuah restoran. Cukup mewah. Dan suasanya romantis. Kami pun segera memesan makanan dan berbicara panjang lebar.
“Haha.. kamu lucu sekali. Oh iya. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”
“Katakan saja. Apa sih yang akan Tuan Eza katakan? Sepertinya serius sekali.”
“Ya, jadi, begini. Sebenarnya, aku…”
“Ya?”
“Aku menyukaimu. Maukah kau menjadi pacarku?”
“Eza? Aku sudah punya pacar. Tidak mungkin aku menjadi pacar dua orang sekaligus.”
“Tapi, kau tidak begitu mencintai pacarmu itu. Berpisahlah dengannya, dan jatuhlah kepadaku. Aku tahu, sebenarnya kamu tidak mencintai pacarmu itu. Apalagi, sejak hadirnya aku di kehidupanmu, sepertinya kau sangat senang.”
“Tapi, Eza, ini tidak bisa. Aku…”
“Kenapa? Takut untuk memutuskan hubungan dengannya? Atau, kamu tidak bisa bilang bahwa sebenarnya kamu tidak bahagia bersamanya? Perlukah aku yang mengatakannya?”
“Eza, bukan seperti itu. Masalahnya…”
Aku berusaha untuk membuat Eza agar menarik kembali kata-katanya. Tapi, dia terus mengejarku dengan kata-katanya yang membuatku terus menelan kata-katanya ke dalam hati dan pikiranku.
Tanpa ku sadari, Bagas ternyata ada di restoran ini bersama dengan teman-temannya. Salah satu temannya melihatku, dan memberitahukan pada Bagas. Bagas pun menghampiriku.
“Ana? Katanya, kamu sedang mengerjakan tugas bersama temanmu? Jadi, ini yang namanya mengerjakan tugas?”
“Ah,.. Bagas? Se.. sedang apa kau di.. sini?” kataku dengan terbata-bata.
“Tak penting kenapa aku disini. Siapa dia?”
Bagas menunjuk Eza. Aku diam seribu bahasa. Aku tak tahu harus mengatakan apa. Tiba-tiba, Eza berdiri, dan menjawab semua pertanyaan Bagas.
“Kau yang bernama Bagas? Kenalkan. Aku Eza. Teman Ana. Dan sebentar lagi akan berubah status menjadi kekasih Ana.”
“Apa? Kekasih Ana? Apa kau tak tahu kalau aku pacarnya?”
“Ya. Aku tahu. Justru karena aku tahu, aku berusaha menjadi kekasih Ana. Apa kau tak tahu, bahwa Ana tidak bahagia bersamamu?”
“Apa maksudmu?”
“Ana tak pernah mencintaimu. Cintamu bertepuk sebelah tangan. Ana sudah berusaha untuk mencintaimu, tapi, dia tak bisa. Kau terlalu memaksa Ana untuk menerimamu di kehidupannya. Selama ini, dia berusaha bertahan. Bertahan bersamamu, bertahan disisimu, dan tanpa kau ketahui, dengan adanya kau yang terlalu berhemat, dia semakin tidak menyukaimu. Karena itu, jika ada seseorang yang mengisi kehidupannya, jangan salahkan Ana jika ia mencintai orang itu. Karena apa? Karena kau yang terlalu men-judge bahwa Ana milikmu. Sedangkan Ana tidak menginginkan itu. Aku tahu semua ini, karena Ana bercerita padaku. Jangan salahkan Ana. Ok? Dia bercerita padaku dengan bahasa yang halus. Dan aku menyimpulkannya seperti ini. Puas dengan jawabanku untuk pertanyaanmu?”
“Tidak mungkin! Ana! Katakan yang sebenarnya!”
Aku tetap diam seribu bahasa. Aku bingung harus menjawab apa. Aku ingin meng’iya’kan kata-kata Eza. Tapi, mulutku tak mau membuka. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Apa yang harus aku lakukan?
“Ana!! Kenapa kamu diam saja?! Berarti, semua yang dikatakannya benar? Jawab Ana!!”
Aku tetap bergeming.
“Ana.”
Panggilan Eza membuyarkan pikiran kosongku. Aku pun menatap Eza.
“Katakan saja. Tak apa. Aku ada di sini. Kau tak perlu khawatir.”
Eza menenangkan pikiranku. Dan aku menatap Bagas dengan sungguh-sungguh.
“Bagas, semua yang dikatakan Eza itu benar. Kau bahkan melupakan hari jadian kita. Jujur, aku.. aku sudah muak menjalani semua ini. Kamu tak pernah memikirkan perasaanku! Aku lelah, jika harus aku yang selalu berkorban untukmu! Harusnya kau sadar! Bagaimana perasaanku setiap aku yang harus menguhubungimu. Sudahlah. Aku ingin kita mengakhiri hubungan ini. Sudah cukup. Aku tidak mau menangis untukmu. Aku tidak mau lagi berkorban untukmu. Relakan aku bersama Eza. Aku mencintai Eza. Aku benar-benar menyukainya. Tak seperti aku menyukaimu. Ini jawabanku. Kamu ngerti kan?”
Kali ini, Bagas terdiam. Sepertinya dia merasakan shock terapi. Mungkin, dalam pikirannya bercampur aduk mengingat masa-masa pacaran kita selama setengah tahun ini.
“Jika memang itu yang kamu inginkan, Ok. Kita putus, Ana. Tapi ingat. Jangan pernah hubungi aku lagi. jangan pernah mangajakku untuk bertemu lagi. jangan pernah sms aku lagi. ngerti?”
“Ya. Aku akan mengingat itu semua.”
Bagas pun pergi, meninggalkan restoran, dan disusul oleh teman-temannya. Aku duduk lemas. Rasanya, aku seperti mengeluarkan beban pikiran yang selama ini aku simpan. Lega sekali. Dan aku menangis.
“Lho? Ana? Jangan menangis. Ada apa?”
“Tidak ada apa-apa. Aku hanya lega saja. sudah bisa mengatakan semua itu. Makasih ya, Eza. Kamu benar-benar membantuku.”
“Bagaimana? Kamu mau kan jadi pacarku?”
“Iya.”
***
Kami pun menjalani hari-hari kami dengan menyenangkan. Dan tak ada kabar sama sekali dari Bagas. Sejujurnya, aku ingin tahu bagaimana keadaan Bagas saat ini. Tapi, dia menyuruhku untuk tidak menghubunginya. Ya, tak apa. Toh, Eza ada disampingku. Dan kali ini, orang tuaku tahu kalau aku berpacaran dengan Eza. Dan mereka setuju. :D
***
“Masih mencintaiku kan?”
“Ya tentu saja. Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Aku takut saja. Jangan-jangan, rasamu kepadaku seperti rasamu ke Bagas waktu itu.”
“Haha.. tak akan. Sudahlah. Kita jalani saja hubungan kita. Tidak akan ada yang mengganggu.”
“Ya, ya. Baiklah. Buatkan puisi untukku. Kamu kan orangnya pintar buat puisi.”
“Hmm.. puisi ya. Baiklah. Tunggu minggu depan. Pasti sudah jadi puisinya.”
“Lamanya.. kamu ini..”
***
Akhir kisah kami pun bahagia. Aku dan Eza menjalani hari-hari yang selalu berbeda. Entah bagaimana akhirnya nanti, yang jelas, saat ini, kami masih pacaran, dan akan terus seperti ini sampai suatu saat nanti. Entah kapan…